TAK ORIENTASI REALITA DAN SOSIALISASI

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1. 1 LATAR BELAKANG

Terapi kelompok menurut yasirblogspotcom.2009 adalah metode pengobatan ketika klien ditemui dalam rancangan waktu tertentu dengan tenaga yang memenuhi persyaratan tertentu fokus terapi adalah membuat sadar diri (self-awareness), pleningkatan hubungan interpersonal, membuat perubahan, atau ketiganya.

Jenis terapi kelomok

  1. Kelompok terapeutik

Kelompok terapeutik membantu mengatasi stress emosi, penyakit fisik krisis, tumbuh kembang, atau penyesuaian sosial.


Tujuan Kelompok terapeutik:

1.  Mencegah masalah kesehatan

2.  Mendidik dan mengembangkan potensi anggota kelompok

3. Meningkatkan kualitas kelompok, antara anggota kelompok saling membantu dalam menyelesaikan masalah.

b. Terapi aktivitas kelompok

Proses kelompok adalah makna interaksi verbal dan non verbal di dalam kelompok yang meliputi:

ü   isi komunikasi

ü   Hubungan antara anggota

ü    Pengaturan tempat duduk

ü   Pola atau nada bicara

ü   Bahasa dan sikap tubuh

ü  Tema kelompok yang dapat diekspresikan baik secara terbuka atau tertutup.

ü  Kelompok terapi berfokus pada hubungan kelompok, interaksi antar anggota, dan masalah dalam hidup dan perilaku yang terjadi disana dan saat ini (Ann, 2005).

1.2 IDENTIFIKASI MASALAH

Terapi aktivitas kelompok adalah salah satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan yang sama (keliat, 2005). Terapi aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu terapi aktivitas kelompok stimulasi kognitif/persepsi, terapi aktivitas kelompok stimulasi sensori, terapi aktivitas kelompok stimulasi realita, dan terapi aktivitas kelompok sosialisasi.

Di dalam makalah ini penulis mengangkat beberapa permasalahan yang kerap kali terjadi di dunia keperawatan jiwa. Tidak hanya itu, di dalam makalah sederhana ini juga dihadirkan pemecahan yang sesuai dengan masalah yanng dihadapi. Seperti kegagalan seseorang dengan gangguan jiwa dalam menggunakan memorinya untuk mengetahui realitas dalam kehidupan serta ganngguan sosialisasi yang berhubungan dengan perilaku kekerasan.

  1. 1. 3 TUJUAN PENULISAN

Dalam meghadapi permasalah di atas,  penulis telah menyodorkan beberapa pemecahan yang sebelumnya telah banyak dipakai oleh orang-orang sebelumnya. Diantara penjelasan yang penulis tera antara lain:

Pengertian T.A.K Orientasi Realita dan  Sosialisai

Tujuan T.A.K Orientasi Realita dan  Sosialisai

Metode T.A.K Orientasi Realita dan  Sosialisais

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1  T.A.K ORIENTASI REALITA

A. Pengertian

Terapi Aktivitas Kelompok Orientasi Realita (TAK)bersumber dari fik-unad.com 2009: orientasi realita adalah upaya untuk mengorientasikan keadaan nyata kepada klien, yaitu diri sendiri, orang lain, lingkungan/ tempat, dan waktu.

Klien dengan gangguan jiwa sikotik, mengalami penurunan daya nilai realitas (reality testing ability). Klien tidak lagi mengenali tempat, waktu, dan orang-orang di sekitarnya. Hal ini dapat mengakibatkan klien merasa asing dan menjadi pencetus terjadinya ansietas pada klien. Untuk menanggulangi kendala ini, maka perlu ada aktivitaas yang memberi stimulus secara konsisten kepada klien tentang realitas di sekitarnya. Stimulus tersebut meliputi stimulus tentang realitas lingkungan, yaitu diri sendiri, orang lain, waktu, dan tempat.

B. Tujuan

Tujuan umum yaitu klien mampu mengenali orang, tempat, dan waktu sesuai dengan kenyataan, sedangkan tujuan khususnya adalah:

  1. Klien mampu mengenal tempat ia berada dan pernah berada
  2. Klien mengenal waktu dengan tepat.
  3. Klien dapat mengenal diri sendiri dan orangorang di sekitarnya dengan tepat.

C. Aktivitas dan Indikasi

Aktivitas yang dilakukan tiga sesi berupa aktivitas pengenalan orang, tempat, dan waktu. Klien yang mempunyai indikasi disorientasi realitas adalah klien halusinasi, dimensia, kebingungan, tidak kenal dirinya, salah mengenal orang lain, tempat, dan waktu.

Sesi 1 : Pengenalan Orang

Tujuan

  1. Klien mampu mengenal nama-nama perawat.
  2. Klien mampu mengenal nama-nama klien lain.

Setting

  1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran.
  2. Ruangan nyaman dan tenang.

Alat

  1. Pan nama sejumlah klien dan perawat yang ikut TAK
  2. Spidol
  3. Bola tennis
  4. Tape rcorder
  5. kaset “dangdut”

Metode

  1. Dinamika kelompok
  2. Diskusi dan Tanya jawab

Langkah Kegiatan

  1. Persiapan

– Memilih klien sesuai dengan indikasi

– Membuat kontrak dengan klien

– Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

  1. Orientasi

ü  Salam terapeutik: salam dari terapis kepada klien.

ü  Evaluasi/ validasi

Menanyakan perasan klien saat ini.

ü  Kontrak

    1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal orang
    2. Terapis menjelaskan atuaran main berikut:
  • Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.
  • Lama kegiatan 45 menit
  • Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

  1. Tahap Kerja

1)      Terapis membagikan papan nama untuk masing-masing klien

2)      Terapis meminta masing-masing klien menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal

3)      Terapis meminta masing-masing klien menuliskan nama panggilan di depan papan nma yang dibagikan

4)      Terapis meminta masing-masing klien memperkenalkan diri secara berurutan, searah jarum jam dimulai dari terapis, meliputi menyebutkan: nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi

5)      Terapis menjelaskan langkah berikutnya: tape recorder akan dinyalakan, saat musik terdengar bola tenis dipindahkan dari satu kien ke klien lain. Saat musik dihentikan, klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi dari klien yang lain (minimal nama panggilan).

6)      Terapis memutar tape recorder dan menghentikan . saat musik berhenti, klien klien yang sedang memegang bola tennis menyebutkan nama lengkap, nama panggilan, asal, dan hobi klien yang lain.

7)      Ulangi langkah f sampai semua klien mendapatkan giliran.

8)      Terapis memberikan pujian untuk setiap keberhasilan klien dengan mengajak klien lain bertepuk tangan.

  1. Tahap terminasi
    1. Evaluasi
    1. Terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
    2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok.
    3. Tindak lanjut

Terapis menganjurkan klien menyapa orang lain sesuai dengan nama panggilan.

    1. Kontrak yang akan datang


Evaluasi dan Dokumentasi

  1. 1. Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realitas orang, kemampuan klien yang diharapkan adalah dapat menyebutkan nama, panggilan, asal, dan hobi klien lain.

Sesi 1: TAK

Orientasi Realitas Sesorang

Kemampuan mengenal orang lain

NO Aspek yang dinilai Nama Klien
1 Menyebutkan nama klien
2 Menyebutkan nama pangilan klien
3 Menyebutkan asal klien lain.
4 Menyebutkan hobi klien lain

Petunjuk:

    1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.
    2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengetahui nama, pangilan, asal dan hobi klien lain. Beri tanda (V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.
  1. Dokumentasi

Dokumentasikan pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mngikuti TAK orientasi realitas orang. Klien mampu menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi klien lain di sebelahnya. Anjurkan klien mengenal klien lain di ruangan.

Sesi 2: Pengenalan Tempat

Tujuan:

1. Klien mampu mengenal nama rumah sakit.

2. Klien mampu mengenal nama ruangan tempat dirawat.

3. Klien mampu mengenal kamar tidur

4. Klien mampu mengenal tempat tidur

5. Klien mampu mengenal ruan perawata, ruang istirahat, ruang makan, kamar mandi, dan WC.

Setting

  1. Terapis dan klien duduk bersama dalam limgkaran
  2. Ruangan tempat perawatan klien

Alat

  1. Tape recorder
  2. Kaset lagu “dangdut”
  3. Bola tnis

Metode

  1. Diskusi kelompok
  2. Orientasi lapangan

Langkah Kegiatan

  1. Persiapan

– Memilih klien sesuai dengan indikasi

– Membuat kontrak dengan klien

– Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

  1. Orientasi

a. Salam terapeutik: salam dari terapis kepada klien

b. Evaluasi/ validasi

menanyakan perasan klien saat ini.

c. Kontrak

1. terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal tempat yang biasa dilihat.

2. terapis menjelaskan atuaran main berikut:

– jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.

– lama kegiatan 45 menit

– setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

  1. Tahap Kerja

1)      Terapis menanyakan kepada klien nama rumah sakit, nama ruangan; klien diberi kesempatan menjawab. Beri pujian pada klien yang mampu menjawab dengan tepat.

2)      Terpais menjelaskan dengan menyalakan tape recorder lagu dangdut, sedangkan bola tennis diedarkan satu persatu ke peserta yang lain searah jarum jam. Pada saat lagu berhenti, klien yang sedang memegang bola tennis akan diminta menyebutkan nama rumah sakit dan nama ruangan tempat klien dirawa.

3)       Terapis menyalakan tape recorder, menghentikan lagu, dan meminta klien memegang bola tennis untuk menyebutkan nama ruangan dan nama rumah sakit. Kegiatan ini diulang sampai semua peserta mendapat giliran.

4)       Terapis memberikan pujian saat klien telah menyebutkan dengan benar.

5)       Trapis mengajak klien berkeliling serta menjelaskan nama dan fungsi ruangan yang ada. Kantor perawat, kamar mandi, WC, ruang istirahat, ruang TAK, dan ruangan lainnya

  1. Tahap Terminasi

a. Evaluasi

    1. Terapis mennyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
    2. Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

b. Tindak lanjut

Terapis menganjurkan klien untuk menghapal nama-nama tempat

c. Kontrak yang akan datang

    1. Menyepakati kegiatan TAK yang akan dating, yaitu mengenal waktu.
    2. Menyepakati waktu dan tempat.


Evaluasi dan Dokumentasi

  1. 1. Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realitas tempat, kemampuan klien yang diharapkan adalah mengenal tempat di rumah sakit.

Sesi 2: TAK

Orientasi Realita Tempat

Kemampuan mengenal tempat di rumah sakit

NO Aspek yang dinilai Nama Klien
1. Menyebutkan nama rumah sakit
2. Menyebutkan nama ruangan
3. Menyebutkan letak kantor perawat.
4. Menyebutkan letak kamar mandi dan WC
5. Menyebutkan letak kamar tidur

Petunjuk:

a. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.

b. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengenal tempat-tempat di ruang rawat dan nama rumah sakit. Beri tanda (V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

  1. 2. Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti Sesi 2, ruangan dan letak kamar tidur yang lain belum mampu. Orientasikan klien dengan tempat-tempat di ruangan.

Sesi 3: Pengenalan Waktu

Tujuan

1. Klien dapat mengenal waktu dengan tepat

2. Klien dapat mengenal tanggal dengan tepat

3. Klien dapat mengenal hari dengan tepat

4. Klien dapat mengenal tahun dengan tepat

Setting

1. Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran

2. Klien berada di ruangan yang ada kalender dan jam dinding.

Alat

  1. Kalender
  2. jam dinding
  3. Tape recorder
  4. Kaset lagu dangdut
  5. Bola tennis

Metode

  1. Diskusi
  2. Tanya Jawab

Langkah Kegiatan

1. Persiapan

– Memilih klien sesuai dengan indikasi

– Membuat kontrak dengan klien

– Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan

2. Orientasi

a. Salam terapeutik: salam dari terapis kepada klien

b. Evaluasi/ validasi

* Menanyakan perasan klien saat ini.

* Menanyakan apakah klien masih mengingat nama-nama ruangan yang sudah dipelajari.

c. Kontrak

1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mengenal waktu

2. Terapis menjelaskan atuaran main berikut:

– Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada terapis.

– Lama kegiatan 45 menit

– Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai.

3. Tahap Kerja

a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dikerjakan

b. Terapis menjelaskan akan menghidupkan tape recorder, sedangkan bola tennis diedarkan dari satu klien ke klien lain. Pada saat musik berhenti, klien yang memegang bola menjawab pertanyaan dari terapis.

c. Terapis menghidupkan musik, dan mematikan musik. Klien mengedarkan bola tennis secara bergantian searah jarum jam. Saat musik berhenti, klien yang memegang bola menjawab pertanyaan dari terapis tentang tanggal, bulan, tahun, hari, dan jam saat itu. Kegiatan ini diulang sampai semua klien mndapat giliran.

4. Tahap Terminasi

a. Evaluasi

    • Terapis mennyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
    • Terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok

b. Tindak lanjut

Terapis menganjurkan klien memberi tanda/ mengganti kalender setiap hari.

c. Kontrak yang akan datang

* Menyepakati kegiatan TAK yang akan dating, yaitu mengenal waktu.

* Menyepakati waktu dan tempat.

Evaluasi dan Dokumentasi

  1. Evaluasi

Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja. Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Untuk TAK orientasi realita waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun.

Sesi 3: TAK

Orientasi Realita Waktu

Kemampuan mengenal waktu

NO Aspek yang dinilai Nama Klien
1. Menyebutkan jam
2. Menyebutkan hari
3. Menyebutkan tanggal
4. Menyebutkan bulan
5. Menyebutkan tahun

Petunjuk:

1. Tulis nama pangilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien.

2. Untuk tiap klien, beri penilaian tentang kemampuan klien mengetahui waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun. Beri tanda (V) jika klien mampu dan tanda (X) jika klien tidak mampu.

2. Dokumentasi

Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan proses keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti Sesi 3, TAK orientasi realitas waktu. Klien mampu menyebutkan tanggal dan hari, tetapi yang lain belum mampu. Orientasikan klien dengan tempat-tempat di ruangan.

2.2 T.A.K SOSIALISASI

A. Pengertian

Pengertian yang didapat dari kesehatanwordpress.com, 2009 merupakan suatu upaya untuk memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien dengan masalah hubungan sosial. Tujuan umum dari terapi ini ialah klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Sosialisasi dapat juga dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. Aktifitas dapat berupa latihan sosialisasi dalam kelompok.

B. Topik dan Latar Belakang

Tema : Terapi Aktivitas Kelompok terhadap Perilaku Kekerasan

Topik   : Mengembangkan Sosialisasi Melalui Kegiatan Menggambar

Terapis : Enam orang mahasiswa

Sasaran : Enam orang klien

Waktu : 1 X 45 menit

Perilaku Kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh keluarga. Penanganan oleh keluarga belum memadai, keluarga seharusnya mendapat pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen perilaku kekerasan). Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).

Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : “Marah adalah pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat”. Kemarahan yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons kemarahan sesorang dan fungsi positif marah.

  1. I. Tujuan

Diharapkan dapat membantu klien dengan kasus tindak kekerasan untuk mempunyai suatu respon yang lebih adaptif dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

  1. a. Tujuan Umum
  2. b. Tujuan khusus :
  3. c. Tujuan saat ini
  • Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
  • Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain.
  • Klien mampu memperkenalkan diri
  • Klien dapat membina hubungan saling percaya.
  • Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.
  • Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
  • Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
  • Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
  • Indikasi klien adalah klien dengan hubungan social : Tindak kekerasan
  • Klien tindak kekerasan yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal

Klien mampu menyebutkan jati dirinya antara lain :

  • Menyebutkan nama lengkap
  • Membina hubungan saling percaya.
  • Dapat mewarnai gambar
  • Dapat menyebutkan apa yang digambarkan
  • Dapat memberi pendapat terhadap gambar klien yang lain
  • Dapat memberi umpan balik terhadap  kegiatan tersebut

II. Metode : Diskusi

Dalam menggambar terdapat aspek-aspek antara lain :

  • Keterampilan motorik halus, ( menggunakan alat tulis ).
  • Kemampuan koordinasi.
  • Konsentrasi, termasuk kemampuan mengekspresikan perasaan, pikiran dan menceritakan arti dari suatu gambar.

Ini sangat baik untuk terapi dengan klien yang memerlukan fasilitas dalam mengembangkan kemampuan mengingat, meningkatkan ketenangan dan mengontrol emosi.

Kegiatan ini dinamakan shering perasaan dimana anggota akan belajar untuk saling berkomunikasi yang memiliki tujuan mengutarakan perasaan dan persepsi dalam memperjelas sesuatu masalah yang diungkapkan, sehingga secara bertahap klien akan melakukan hubungan sosial dengan orang lain.

  • Setiap anggota kelompok diberi kesempatan memperkenalkan diri dan yang lain mendengarkan
  • Anggota kelompok bebas menentukan gambarnya
  • Setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya dan pikirannya melalui gambar
  • Setiap anggota kelompok diminta memberikan tanggapan terhadap gambar yang dibuatnya, maupun yang dibuat orang lain.

  1. III. Kriteria Peserta

Persyaratan Umum

  • Klien yang tidak terlalu gelisah.
  • Klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu berlangsungnya Terapi Aktifitas Kelompok
  • Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu berinteraksi dalam kelompok kecil
  • Klien  tenang dan kooperatif
  • Kondisi fisik dalam keadaan baik
  • Mau mengikuti kegiatan terapi aktivitas
  • Klien yang dapat memegang alat tulis
  • Klien yang panca inderanya masih memungkinkan

VI.  Estimasi Waktu Pelaksanaan

  • Perkenalan              : 5   menit
  • Menggambar           :  15 menit
  • Diskusi                    :  15 menit
  • Observer                  :  10 menit

VII.  Nama Peserta

Jumlah dan Nama Pasien

  1. Tn. A
  2. Tn. B
  3. Tn. C
  4. Tn. D
  5. Tn. E

Cadangan :

  1. Tn. F
  2. Tn.G

VIII.  Media dan Alat

  • Lembaran kertas bergambar
  • Krayon / pensil untuk mewarnai

IX.   Tatacara Pelaksaan

  1. Kegiatan berlangsung satu season : 60 menit
  2. Pembukaan dan perkenalan
  3. Diawali dengan do’a
  4. Penjelasan aturan kegiatan
  5. Proses kegiatan
  6. Shering perasaan

X.       Uraian Tugas Pelaksana

  1. a. Peran Leader
  2. b. Peran Observer
    1. Jumlah anggota yang hadir
    2. Siapa yang terlambat
    3. Daftar hadir
    4. Siapa yang memberi pendapat atau ide
    5. Topik diskusi
  • Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk mengekspresikan perasaannya
  • Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau mendominasi
  • Koordinator, Mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan
  • Mengidentifikasi isue penting dalam proses
  • Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader
  • Mengamati dan mencatat :
  • Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang akan datang
  • Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya

Peran Fasilitator :

  • Mempertahankan kehadiran peserta
  • Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
  • Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun dari dalam kelompok

XI.      Mekanisme Kegiatan

Proses Evaluasi Anggota dan Kelompok

Anggota kelompok maksimal 6 orang klien

  1. Anggota kelompok yang terlambat maksimal 30 % dari keseluruhan jumlah pasien
  2. Anggota kelompok yang memberikan pendapat minimal 5 orang atau 50 % dari yang hadir
  3. Anggota kelompok yang dapat mengekspresikan perasaan atau pendapat dan tingkah laku minimal 50 %
  4. Anggota kelompok yang dapat mengungkapkan perasaannya terhadap kegiatan yanbg dilakukan diakhir kegiatan minimal 50 % dari yang hadir

Keterangan :  Posisi Klien saling berhadapan

XIII.    Tata Tertib dan Antisipasi

a.   Tata Tertib :

1.  Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK

2.  Berpakaian rapi dan bersih

3.  Peserta tidak diperkenankan makan, minum dan merokok selama kegiatan TAK

4.  Peserta boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib dibacakan selama 5 menit, dan bila peserta tidak kembali ke ruangan  maka peserta tersebut diganti peserta cadangan

5.  Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah tata tertib dibacakan. Bila peserta meninggalkan ruangan dan tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk oleh fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh peserta cadangan.

6.  Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai

7.  Peserta yang ingin mengajukan pertanyaan, mengangkat tangan terlebih dulu dan berbicara setelah dipersilahkan.

8.  TAK berlangsung selama 45 menit dari pukul 08.30 sampai 09.15.

b.   Program Antisipasi

  1. Usahakan dalam keadaan terapeutik
  2. Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga perasaan anggota kelompok, menahan diri untuk tertawa atau sikap yang menyinggung
  3. Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir, maka diganti oleh cadangan yang telah disiapkan dengan cara ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta.
  4. Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan dan jika tidak bisa diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan setelah dilakukan penawaran.
  5. Bila ada anggota yang ingin keluar, dibicarakan dan diminta persetujuan dari peserta TAK yang lain
  6. Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan tujuan, leader memperingatkan dan mengarahkan kembali bila tidak bisa, dikeluarkan dari kelompok
  7. Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator

Isi MATERI

Perilaku Kekerasan

1. Proses Terjadinya Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

2. Penyebab Perilaku Kekerasan

Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi.

  1. Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/ keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
  2. Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
  3. Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

3. Tanda  dan Gejala Orang yang Menarik Diri

  1. Muka merah
  2. Pandangan tajam
  3. Otot tegang
  4. Nada suara tinggi
  5. Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
  6. Memukul jika tidak senang

4. Tindakan keperawatan pada klien perilaku kekerasan

Keliat dkk. (2002) mengemukakan cara khusus yang dapat dilakukan
keluarga dalam mengatasi marah klien yaitu :

a. Tindakan Keperawatan

  1. Berteriak, menjerit, dan memukul.

Terima marah klien, diam sebentar, arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak seperti bantal, kasur

  1. Cari gara-gara.

Bantu klien latihan relaksasi misalnya latihan fisik maupun olahraga, Latihan pernafasan 2X/ hari, tiap kali 10 kali tarikan dan hembusan nafas.

  1. Bantu melalui humor.

Jaga humor tidak menyakiti orang, observasi ekspresi muka orang yang
menjadi sasaran dan diskusi cara umum yang sesuai.

b.      Terapi Medis

Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk
mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa.

CRE : 06 PSIK USK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: